Selamatkan
Papua atas nama Kemanusiaan, Keadilan dan Kesejahteraan.
Pada tanggal 5-7 Juli 2011 di
Jayapura Papua di selenggarakan
Konferensi Damai Papua yang dihadiri oleh 500 perwakilan rakyat Papua
dan 300 orang peninjau. Dalam diskusi
dan sosialisasi konferensi damai papua
di kantor kontras (19/7/2011) Muridan Widjojo dan Neles Tebay hadir sebagai
narasumber. Menurut Muridan konferensi Damai Papua merupakan perjumpaan awal
antara rakyat Papua dengan pemerintah Jakarta dalam situasi yang saling
menghormati dan saling menghargai. Kehadiran Joko Suyanto (menkopolhukam) dan
jajarannya dalam konferensi tersebut dapat diartikan dukungan pemerintah dalam
konferensi tsb. Muridan juga menegaskan bahwa fungsi JDP adalah fasiliator
dalam proses Damai di Papua, ibarat jembatan kami baru bisa dilewati mobil 1
ton dan jangan paksa saya mampu dilewati 100 ton, krn pasti kami tidak mampu,
JDP butuh dukungan banyak pihak untuk bisa mendukung agenda dialog di Papua.
Sementara Pater Neles menegaskan bahwa ada tuduhan yang terbalik terhadap orang
Papua, yaitu “semua orang Papua itu separatis sampai ada bukti bahwa dia tidak
separatis”, padahal yang benar adalah “
semua orang Papua itu bukan separatis sampai ada bukti bahwa mereka separatis”.
Sejak tahun 2009 lalu muncul wacana
dialog bagi rakyat papua dalam upaya menyelesaikan masalah yang tak kunjung
selesai antara Papua dan Jakarta. Adalah JDP (Jaringan Damai Papua) yang
mengusung agenda dialog menyusul Papua Road Map yang dihasilnya oleh Muridan
Widjojo dkk di LIPI. Pemerintah merespon wacana dialog yang disampaikan dalam
pidato presiden SBY tanggal 16 Agustus 2010 bahwa ”Pemerintah dengan saksama terus mempelajari
dinamika yang ada di Papua, dan akan terus menjalin komunikasi yang konstruktif
dalam pembangunan Papua yang lebih baik.” Ungkapan kunci dalam kutipan itu
adalah komunikasi yang konstruktif (Sabam Siagian, 21 Agustus, Komnas.com).
Wacana Dialog vs Komunikasi Konstruktif
dibaca sebagai Papua vs Jakarta. Rakyat Papua ingin dialog dan Jakarta ingin
komunikasi kontruktif. Seakan keduanya 2 hal yang berbeda dan layak
dipertentangkan. Padahal dari segi bahasa keduanya jelas tidak bertolak
belakang. Dalam kamus besar bahasa Indonesia dialog adalah percakapan 2 orang
atau lebih. Sementara komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau
berita antara 2 orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksdud dipahami,
dan konstruktif adalah bersifat membina,
memperbaiki dan membangun. Berdasarkan arti dalam kamus bahasa Indonesia keduanya
jelas tidak bertentangan satu sama lain.
Pertentangan keduanya jelas bukan
sekedar beda kata arti sama, perbedaan mengacu pada sejarah yang belum selesai
hingga kini. Sering kita dengar bahwa ada akar masalah yang belum selesai di
Papua sejak 1 Desember 1961 dilanjutkan dengan persetujuan New York tahun
1962 dimana Belanda menyerahkan
Papua ke UNTEA (United Nation Temporary
Executive Authority) dan selanjutnya UNTEA menyerahkan Papua kepada Indonesia
(Papua Road Map, Muridan Widjojo, 2009). Berlanjut dengan proses pelaksanaan
PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) pada
tanggal 14 Juli – 4 Agustus 1969 di 7
wilayah di Papua. Dimana rakyat Papua diwakili oleh 1.025 orang. Yang oleh
Charlie Hill-Smith sutradara film documenter asal Australia dalam film
“Strange Birds in Paradise” merekam situasi
yang penuh tekanan dan intimidasi dalam proses menjelang pelaksanaan PEPERA
yang berujung kemenangan tuk bergabung dengan Indonesia. Socrates Yoman dalam
bukunya West Papua : Masalah Internsional
menegaskan kembali bahwa PEPERA tidak demokratis.
Reformasi bergulir di Indonesia
membawa angin segar dalam proses berdemokrasi, tapi ternyata tidak sampai di
Papua. KontraS mencacat beberapa pelanggaran HAM berat terjadi di Papua paska
reformasi : kasus Abepura (2000), Pembunuhan Theis (2001), kasus Wasior (2001),
kasus Wamena (2003). Bahkan di tahun 2010 KontraS mencatat ada 11 kasus
penyiksaan di Papua.
Di tahun 2011 perhatian nasional dan
internasional terhadap Papua bertambah. Kekerasan yang meningkat paska
diselenggarakan konferensi damai Papua. Kondisi ini sangat memprihantinkan,
disatu sisi sedang diupayakan penyelesaian Papua dengan damai lewat
dialog/komunikasi konstruktif, tapi disisi lain kekerasan terus terjadi di
Papua dan memakan korban.
ketidakkonsistenan ini bisa dinilai sebagai ketidakseriusan pemerintah
dalam menyelesaikan Papua. UU No 21/2001 tentang Otonomi yang sudah terlaksana 10 tahun dengan kucuran
dana mencapai 30 Triliun dinilai gagal karena tidak memberi peningkatan
kesejahteraan bagi rakyat Papua. Pembentukan provinsi Papua Barat di tahun 2004
seakan menbingungkan identitas bangsa
Papua yang menyebut dirinya sebagai West Papua.
Unit Percepatan Pembangunan Papua
dan Papua Barat (UP4B) yang merupakan strategi paling gress pemerintah
Indonesia untuk menyelesaikan masalah Papua, kurang mendapat respon positif
dari rakyat. Hal ini menjadi wajar ketika berulang kali kebijakan yang dibuat
pemerintah membawa kesejukan diawal tapi penderitaannya sampai akhir.
Kepercayaan menjadi barang mahal dan langka antara pemerintah Jakarta dengan
rakyat Papua.
Pada tanggal 15 September 2011
pemogokan yang dilakukan 8.000 buruh di PT Freeport Indonesia untuk menuntut
peningkatan kesejahteraan. Tanda tangan kontrak karya Freeport dilakukan pada
tahun 1967 (sebelum PEPERA) dan melakukan proses produksi sejak tahun 1971. Tak
terkira berapa besar uang yang sudah dihasilkan, yang jelas rakyat 7 suku
sebagian besar masih miskin. Perbedaan bumi dan langit antara Timika vs Koala
kencana dan tembagapura. Pemogokan buruh PT.Fi mendapat dukungan meluas di
Jakarta terutama sector buruh, mahasiswa,
perempuan, LSM dan organisasi rakyat. Freeport sebagai perusahaan
multinasional milik Amerika memperlihatkan secara nyata wajah bengis kapitalisme
(pemodal) yang mengeruk dan merampok emas di Papua tanpa mempedulikan rakyat dan
para pekerjanya. Gerakan anti Freeport juga mendapat dukungan dari gerakan
Occupy Jakarta sebagai respon masyarakat Jakarta terhadap 1%
(pemodal/kapitalis) yang menguasai 99% (rakyat mayoritas).
Konggres III Rakyat Papua yang digelar
pada tanggal 16-19 Oktober 2011 merupakan konsolidasi internal rakyat Papua untuk merumuskan agenda kedepan. Geliat
perlawanan rakyat Papua seakan menemukan muaranya. Sejak Musyawarah Besar
(Mubes) yang di fasilitasi oleh presiden
Gusdur tahun 1999 dilanjutkan dengan kongres Nasional II Rakyat Papua pada
tahun 2000. Theis Hiyo Eluay ketua Presidium Dewan Papua (PDP) dibunuh secara
kejam pada 10 November 2001. Sejak Theis meninggal, kepemimpinan Papua tidak
tergantikan hingga kini. Kongres III mengupayakan memilih pemimpin baru Papua.
Sebutan Presiden dan Perdana Menteri sangat menakutkan tentara dan polisi
sehingga peluru harus dimuntahkan dan 6
nyawa melayang. Di tahun 1999 Gusdur menfasilitasi dilaksanakannya Mubes dengan
bantuan 1 Milyar dan terpilih Theis sebagai ketua PDP, dan semua aman dan
bahagia. Kelompok Adat memainkan peran yang penting ditanah Papua, para kepala
suku dan ondoafi memainkan peran sebagai media untuk megkomunikasikan hal-hal
strategis kepada rakyat. Tapi dalam perkembangannya perpecahan terjadi dan
fungsi dewan adat tidak maksimal dalam melakukan persatuan gerakan rakyat
Papua. Mahasiswa dan pemuda papua diharapkan menjadi motor perubahan di Papua.
Berbagai organisasi Pemuda dan Mahasiswa terbentuk. Pengelompokan berdasarkan
suku, wilayah kerap terjadi dan isu/tuntutan kerap terjadi. Gerakan bersama
antara mahasiswa/pemuda dan adat dalam sejarahnya selalu mendapat dukungan dari
rakyat banyak. Tanggal 12 Agustus 2005 Dewan Adat Papua (DAP) mempelopori aksi
pengembalian otsus Papua kepada pemerintah Indonesia, aksi tersebut didukung
13.000 massa rakyat. Pengembalian otsus untuk kedua kalinya dilakukan pada
tanggal 18 Juni 2010 dimotori oleh Forum Demokrasi (fordem) dan sekali lagi
mendapat dukungan luas dari rakyat Papua.
Kampanye tingkat internasional dan
perjuangan bersenjata tidak bisa dilepaskan dalam perjuangan rakyat Papua.
Berbagai lobby internasional terus dilakukan oleh perwakilan Papua di luar
negri. Hingga saat ini pertemuan dari berbagai upaya perjuangan itu belum
dipertemukan. Papua dengan jumlah
penduduk 1,8 juta jiwa terdiri dari 250
lebih suku tentu bukan hal mudah untuk bicara persatuan. Akan tetapi jika
bicara tentang 1 Desember maka semua orang Papua seakan diikat secara historis
sebagai satu kekuatan besar. Peringatan 1 Desember dilalui dengan penaikan
bintang kejora yang menjadi momok menakutkan bagi pemerintah. Seakan-akan
dengan berkibarnya bendera maka Papua akan lepas dari pangkuan Indonesia. Para
pecundang kehilangan lapak hidup mewah mereka ketika Papua lepas. Pemerintah melalui
TNI Polri dengan slogan NKRI harga mati seakan lupa bahwa bangsa ini dibangun
dengan suatu kerelaan dan sama sekali bukan paksaan. TNI-Polri bahkan sah
melakukan pembunuhan atas nama kecintaan terhadap Negara. Mereka lupa bahwa
Negara mensyaratkan 3 hal yaitu adanya wilayah, adanya rakyat dan adanya
pemerintahan. Nyatanya Pemerintah melalui TNI-Polri melakukan pembunuhan
terhadap rakyat Papua demi wilayah (NKRI) dan demi Negara.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
alinea pertama menyatakan “ Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala
bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena
tidak sesuai dengan perkemanusiaan dan perikeadilan”. Sebagai anak bangsa yang
beradab dan menghargai kemanusiaan, tentu kita tidak ingin terjadi penindasan
dan penjajahan atas nama apapun di negri ini. Karena itu dukungan terhadap
pembebasan manusia atas manusia lain melampaui bangsa, bahasa, etnis dan ras. Mari
kita dukung segala bangsa yang berjuang dan memperoleh pembebasannya.
Jakarta, 5 Desember 2011
Sinnal Blegur
Lucky Club: Home for all the fun of a Jackpot Party!
BalasHapusLucky Club is your new home for all the fun of a Jackpot Party! Join us today and play luckyclub.live exciting games from the comfort of your home!